Minggu, 18 Oktober 2026
Hidmah PRNU Pelem

Sambut Ramadan 1447 H, Ranting NU Pelem Gelar Ziarah Muassis dan Muharrik

PELEM,  13 Februari 2026 – Menjelang kedatangan bulan suci Ramadan 1447 H, Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Pelem melaksanakan kegiatan ziarah khusus kepada para muassis dan muharrik NU tingkat desa. Kegiatan yang rencananya digelar langsung di makam tersebut, akhirnya dialihkan ke Musholla Al Azam dikarenakan kondisi cuaca hujan deras pada sore hari.
Acara ini dihadiri oleh unsur lengkap kepengurusan Ranting NU Pelem, meliputi jajaran Syuriah dan Tanfidziyah, serta didukung oleh organisasi otonom seperti Muslimat, Fatayat, dan Ansor. Meskipun diguyur hujan deras, antusiasme para jamaah untuk mengikuti rangkaian acara tetap tinggi. Kondisi cuaca tersebut tidak menyurutkan langkah warga NU untuk tetap hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan spiritual ini. Inti dari kegiatan tersebut adalah pembacaan tahlil dan doa yang ditujukan kepada para pendiri NU di wilayah Pelem. Prosesi berjalan dengan khidmat dan lancar di dalam musholla. Hal ini menunjukkan ketahanan dan komitmen warga NU Pelem dalam menjaga tradisi baik organisasi meskipun menghadapi kendala cuaca di lapangan.
Rangkaian acara ditutup dengan kegiatan makan bersama menggunakan hidangan tumpeng yang telah disediakan oleh panitia. Suasana kekeluargaan semakin terasa di tengah suasana hujan sore itu. Melalui kegiatan ini, Ranting NU Pelem berharap dapat menyambut bulan Ramadan dengan hati yang bersih dan semangat baru yang diperkuat oleh doa para pendahulu.

Ziarah kepada muassis dan muharrik — para pendiri dan penggerak NU di tingkat desa — merupakan tradisi yang dijaga warga nahdliyin dari generasi ke generasi. Menjelang Ramadan, ziarah dimaknai sebagai momentum membersihkan hati: mengingat jasa para pendahulu, mendoakan mereka, sekaligus meneguhkan niat memasuki bulan suci dengan semangat baru. Rangkaian tahlil dan doa bersama menjadi inti yang tidak pernah ditinggalkan.

Kehadiran lengkap unsur Syuriah dan Tanfidziyah beserta badan otonom pada acara ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan perekat organisasi. Ketika pengurus dan jamaah duduk bersama melantunkan doa untuk para pendahulu, terbangun kesadaran bahwa perjuangan hari ini adalah sambungan dari perjuangan mereka.

Pemindahan lokasi ke musholla karena hujan deras justru memberi pelajaran tersendiri: keterbatasan cuaca tidak menghalangi niat baik yang sudah ditata. Makan tumpeng bersama sebagai penutup melengkapi suasana — doa sudah dipanjatkan, silaturahmi sudah dieratkan, dan Ramadan pun disambut dengan hati yang lapang.

Tinggalkan Tanggapan

Komentar Anda menunggu moderasi.