PELEM, rantingnupelem.or.id – Dalam tradisi pesantren, Kitab Alaalaa merupakan salah satu kitab dasar yang sangat populer untuk membentuk karakter dan memberikan fondasi bagi para santri dalam menimba ilmu. Kitab ini menegaskan bahwa keberhasilan dalam meraih ilmu tidak datang secara instan, melainkan harus memenuhi enam syarat mutlak.
Melalui bait syairnya yang masyhur, “Alaa laa tanalul ‘ilma illa bi sittatin…”, penyusun kitab ini memberikan rincian syarat yang harus dipersiapkan oleh setiap pencari ilmu agar sukses di dunia dan akhirat. Berikut adalah penjelasan rincinya:
1. Dzakaa’un (Cerdas)
Cerdas di sini bukan berarti harus memiliki IQ yang luar biasa tinggi sejak lahir, melainkan adanya kemampuan intelektual dasar untuk menangkap dan memahami materi yang disampaikan oleh guru. Kecerdasan ini perlu terus diasah, karena ilmu adalah perhiasan dan tanda kemuliaan bagi pemiliknya.
2. Hirshun (Semangat/Loba)
Seseorang harus memiliki rasa haus akan ilmu dan kesungguhan yang tinggi. Kitab Alaalaa mengingatkan bahwa ilmu tidak akan pernah bisa didapatkan oleh mereka yang malas atau bersantai-santai. Sebagaimana harta tidak bisa didapat tanpa kerja keras, ilmu pun membutuhkan pengorbanan dan kesungguhan yang jauh lebih besar.
3. Ishthibaarun (Sabar)
Proses belajar pasti akan menemui ujian, kesulitan, dan rasa jenuh. Oleh karena itu, kesabaran menjadi kunci utama. Barangsiapa yang tidak mau merasakan pahitnya belajar meski sesaat, maka ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
4. Bulghatun (Biaya/Bekal)
Menuntut ilmu membutuhkan bekal materi untuk menunjang kebutuhan fisik, kitab-kitab, dan akomodasi selama belajar. Tanpa bekal yang cukup, konsentrasi seorang pelajar bisa terganggu oleh urusan ekonomi yang pada akhirnya menghambat pencapaian ilmu tersebut.
5. Irsyaadu Ustadzin (Petunjuk Guru)
Inilah ciri khas dalam pendidikan ala Nahdlatul Ulama, yaitu adanya bimbingan langsung dari seorang guru. Kitab ini menekankan betapa besarnya hak seorang guru, bahkan dianggap lebih utama daripada hak orang tua kandung dalam urusan pendidikan jiwa. Tanpa petunjuk guru, seseorang berisiko tersesat dalam pemahaman yang salah.
6. Thulu Zamaanin (Waktu yang Lama)
Ilmu tidak bisa diperoleh melalui kursus kilat atau proses yang instan. Dibutuhkan durasi waktu yang panjang untuk meresapi, menghafal, dan mengamalkan ilmu tersebut. Orang yang berilmu akan tetap dianggap “hidup” meskipun fisiknya telah hancur di bawah tanah, sedangkan orang bodoh dianggap sudah “mati” meski fisiknya masih berjalan di atas bumi.
Pentingnya Ilmu dalam Kehidupan Kitab Alaalaa juga mengingatkan bahwa satu orang ahli fiqh yang wara’ (menjaga diri dari dosa) lebih ditakuti oleh setan daripada seribu orang ahli ibadah yang bodoh. Namun, peringatan keras juga diberikan: kerusakan yang besar adalah orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, tetapi kerusakan yang jauh lebih besar adalah orang bodoh yang rajin beribadah tanpa ilmu.
Semoga kita semua, khususnya warga Nahdliyin di Pelem, senantiasa diberikan kekuatan untuk memenuhi enam syarat ini dalam perjalanan kita menuntut ilmu.
Wallahu A’lam bisshowab.


