Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Para pembaca yang dirahmati Allah, dalam khazanah pesantren, Kitab Alaala bukan sekadar kumpulan syi’ir, melainkan kompas moral bagi para penuntut ilmu. Di antara sekian banyak nasihat di dalamnya, terdapat peringatan keras mengenai dua hal yang sering merusak tatanan hidup manusia: bahaya lisan yang tidak terjaga dan keburukan sifat bodoh.
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai poin-poin tersebut sebagaimana tertuang dalam nadhom-nadhom Kitab Alaala:
1. Bahaya Lisan: Lebih Tajam dari Pedang
Kitab ini memberikan perumpamaan yang sangat kuat mengenai betapa fatalnya kesalahan dalam berucap. Dalam salah satu nadhom disebutkan:
“Matinya seorang pemuda itu karena terpeleset lidahnya, dan tidaklah ia mati karena terpeleset kakinya.”
Penjelasan ini menekankan bahwa luka fisik akibat jatuh (terpeleset kaki) bisa sembuh dalam waktu singkat. Namun, “terpelesetnya lidah” atau salah ucap dapat berakibat fatal, merusak reputasi, menghancurkan silaturahmi, bahkan membawa seseorang pada kehancuran yang permanen. Oleh karena itu, tingkat kedewasaan berpikir seseorang seringkali terlihat dari kemampuannya mengendalikan ucapan; semakin sempurna akal seseorang, maka akan semakin sedikit ia bicara hal-hal yang tidak perlu.
2. Kebodohan: “Kematian” Sebelum Ajal Menjemput
Kitab Alaala memandang kebodohan sebagai sebuah tragedi besar bagi kemanusiaan. Ada beberapa poin penting terkait bahaya kebodohan:
- Orang Bodoh yang Ahli Ibadah adalah Fitnah: Disebutkan bahwa kerusakan besar terjadi jika ada orang alim yang melanggar aturan agama, namun kerusakan yang jauh lebih besar adalah orang bodoh yang tekun beribadah tanpa dasar ilmu (jahil mutansik). Mengapa? Karena ibadah tanpa ilmu bisa menyesatkan diri sendiri dan orang lain yang mengikutinya.
- Mayat yang Berjalan: Nadhom dalam kitab ini menggambarkan orang yang bodoh secara ekstrem: “Orang bodoh itu sudah dianggap mati sebelum ia benar-benar mati, tubuh mereka dianggap sudah hancur (tidak berguna) meskipun mereka masih berjalan di atas bumi.”. Sebaliknya, orang yang berilmu akan tetap “hidup” dan dikenang meskipun jasadnya sudah di dalam tanah.
3. Pentingnya Belajar untuk Mengatasi Kebodohan
Kitab ini mengingatkan kita semua untuk tidak pasrah pada keadaan. Belajar adalah satu-satunya jalan keluar karena:
- Tidak Ada yang Lahir dalam Keadaan Alim: Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dilahirkan langsung membawa ilmu pengetahuan; ilmu harus dicari melalui proses belajar yang tekun.
- Kekuatan Ahli Fiqih: Pentingnya menuntut ilmu fiqih (pemahaman agama) sangat ditekankan, karena satu orang ahli fiqih yang menjaga diri dari dosa (wara’) jauh lebih ditakuti oleh setan daripada seribu orang yang rajin ibadah tapi tidak berilmu.
Kesimpulan
Melalui bait-bait syi’ir dalam Kitab Alaala, kita diajak untuk selalu mawas diri. Mari kita jaga lisan kita agar tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri, dan mari kita terus semangat menuntut ilmu agar tidak menjadi “mayat berjalan” yang terjebak dalam gelapnya kebodohan.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita taufik untuk terus belajar dan menjaga adab dalam berucap.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Referensi:
- Kitab Alaala, Nadhom 9, 10
- Kitab Alaala, Nadhom 14, 15, 16, 17, 18
- Kitab Alaala, Nadhom 33

