Artikel
Muqodimah Kitab Hujjah Ahlussunah Wal Jamaah Karya Syeikh Al-Alamah Kyai Haji Ali Ma’sum Al-Jogjawi

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kitab yang berjudul Hujjatu Ahlis Sunnah wal Jama’ah atau Bukti/Argumentasi Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini disusun oleh Syeikh Al-Allamah Kyai Haji Ali Ma’sum Al-Jogjawi, seorang ulama besar Nusantara. Kitab ini merupakan karya penting yang membahas tentang ajaran-ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di halaman judul, penulis langsung meletakkan landasan utama dengan mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:
“عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ“
yang artinya,
“Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk.”
Pembukaan kitab ini dilanjutkan dengan segala puji bagi Allah SWT yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai kitab yang menerangkan segala sesuatu, menjadi petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana firman-Nya:
“تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ”.
Namun, hanya orang-orang yang benar-benar mendalam ilmunya sajalah yang bisa memahami makna-makna dalamnya. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ahli ilmu jika kita tidak mengetahui suatu hal, sesuai firman-Nya:
“فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ”
(Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui). Allah SWT juga menyampaikan peringatan keras bagi siapa saja yang dengan sengaja menentang dan memusuhi Rasulullah SAW, padahal ia sudah mengetahui kebenarannya. Allah SWT berfirman:
“وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا”
(Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali).
Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, yang diutus oleh Allah sebagai “الْمَبْعُوثِ بِالْحِكْمَةِ وَالرَّحْمَةِ الْوَاسِعَةِ لِلْعَالَمِينَ” (pembawa hikmah dan rahmat yang luas bagi seluruh alam semesta).
Penulis kemudian menjelaskan urutan prioritas dalam mengambil ajaran agama yang harus dipegang teguh oleh umat Islam. Langkah pertama dan yang paling utama adalah berpegang pada Al-Qur’an. Jika suatu perkara tidak ditemukan secara spesifik di dalam Al-Qur’an, maka rujukan selanjutnya adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW. Apabila suatu masalah juga tidak ditemukan di dalam Sunnah, maka merujuklah pada pendapat para sahabat Nabi yang diibaratkan seperti bintang-bintang di langit yang menjadi penunjuk arah. Perlu dipahami bahwa perbedaan pendapat di antara para sahabat bukanlah perpecahan, melainkan rahmat bagi umat Islam di generasi setelahnya. Allah SWT memberikan jaminan bahwa umat Islam secara keseluruhan dilindungi dari kesepakatan untuk berkumpul di atas sebuah kesesatan. Orang-orang yang mengikuti jejak para sahabat dengan baik adalah mereka yang berada di atas kebenaran, sebagaimana prinsip yang diambil dari firman Allah SWT: “الْحَقُّ هُوَ الْمُتَّبَعُ مَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ” (Maka tidak ada setelah kebenaran itu, melainkan kesesatan).
Ketika penulis melihat adanya kebutuhan yang sangat mendesak dari para santri, pelajar di lembaga pendidikan Islam, serta para guru dan orang-orang terhormat, ia bermaksud menjelaskan beberapa hal penting. Poin pertama yang dibahas adalah mengenai sejumlah masalah atau persoalan yang seharusnya tidak saling dipertentangkan di antara umat Islam, seperti persoalan menentukan arah kiblat untuk shalat Jumat atau menentukan arah kiblat setelah seseorang dikuburkan. Dalam masalah-masalah seperti ini, keimanan seseorang tidak seharusnya goyah oleh bisikan-bisikan keraguan (waswas) dan khayalan. Tidak ada celah sedikit pun bagi setan untuk menipu mereka, dan mereka tidak akan terpengaruh oleh kekacauan pikiran yang dibuat oleh orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsu atau sekadar “kata orang”. Mereka tetap memegang kebenaran yang diajarkan oleh para pendahulu yang saleh (Salaf), karena kebenaran dari para pendahulu itulah yang harus diikuti.
Dalam menyusun kitab ini, penulis menyatakan bahwa ia telah mengumpulkan ucapan-ucapan para ulama besar (asathin) dan tokoh-tokoh terkemuka Islam. Ia menjelaskan dengan rendah hati bahwa bagi orang-orang yang ilmunya terbatas (qashirin) seperti dirinya sendiri, tidak ada jalan lain selain menghimpun dan menukil perkataan para ulama tersebut. Penulis juga menegaskan bahwa ia tidak berniat membebani dirinya dengan kesusahan menulis kitab ini, seandainya bukan karena adanya dorongan dan perintah langsung dari para guru dan tokoh yang ia hormati.
Di bagian akhir mukadimah ini, penulis mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan dalam kitab Jami’ush Shaghir dan lainnya, di mana Nabi Muhammad SAW bersabda: “إِذَا ظَهَرَتِ الْفِتْنَةُ” (Apabila fitnah telah muncul). Hadis ini disambung dengan riwayat dari Ibnu Abbas RA yang menceritakan sebuah kisah yang sangat menyentuh. Ketika Allah SWT menampakkan kepada Nabi-Nya apa yang akan terjadi pada umatnya setelah wafatnya, yaitu perpecahan dan pertikaian, Nabi SAW menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Ketika Jibril AS turun dan bertanya mengapa beliau menangis padahal Allah telah memberinya kedudukan yang tinggi, Nabi menjawab bahwa ia menangis karena melihat umatnya akan saling membunuh dan berpecah belah sepeninggalnya. Riwayat ini menunjukkan betapa besarnya kecintaan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya dan betapa sedihnya beliau mengetahui akan terjadi perpecahan di antara mereka.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya yang mulia dan para sahabatnya semua. Kitab ini merupakan warisan berharga dari ulama Nusantara yang mengajarkan pentingnya berpegang teguh pada Al-Qur’an, Sunnah, dan mengikuti jejak para sahabat serta ulama salafus shalih. Semoga dengan mempelajari kitab ini, kita dapat memperkuat pemahaman tentang Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan menjaga persatuan umat Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.



